Assalamu’alaikum. Salam sejahtera.
Kita di
sini, tidak sekedar satu kelas tapi satu keluarga. Apakah kita tetap menutup
mata jika ada keluarga kita yang sedang diberi cobaan. Bagaimana jika kita
mendapatkan masalah yang sama? Dan tidak ada satu pun keluarga kita yang
menjenguk, bahkan tidak memberikan semangat sedikit pun. Apakah nilai (NEM) itu
sangat kita dewakan? Terus buat apa nilai yang tinggi jika tidak ada sedikit
hati nurani yang kita buka? Dalam mata kuliah PTL, kita tahu bahwa orang yang
punya intelektual bagus tapi emosional dan spritualnya nol, itu sama saja
dengan buta hati. Tidak mau melihat yang ada di sekelilingnya, terus
mementingkan diri sendiri. Untuk orang yang seperti itu, tak akan pernah
bahagia semasa hidupnya.
Mungkin
beberapa dari kita punya rencana untuk melakukan silaturahmi dengan salah satu
keluarga kita. Tapi tidak tahu alamatnya di mana. Itu tidak perlu dipikirkan
lagi, karena alamatnya sudah dikantongi oleh Ketua Tingkat Jayadi. Tugas kita
sekarang, mendiskusikan kapan kita silaturahmi. Sebaiknya segera, sebelum kita
benar-benar disibukkan oleh laporan-laporan yang akan membuat hati kita semakin
tertutup. Jika kita tidak ada yang bertindak, berarti tidak ada gunanya kita
belajar Agama, Pancasila, Kwn, dan PTL.
Di sini
kita tidak perlu menyebutkan namanya, karena kita semua tahu siapa itu.
Kronologis kejadiannya memang belum terlalu jelas. Tapi ketua tingkat
mendapatkan informasi dari keluarga saudara kita bahwa saudara kita membutuhkan
semangat. Ia mendapatkan bidik misi tambahan, masuk di Unram jalur SBMPTN.
Apakah orang bidik misi itu orang kaya? Tentu saja tidak, ayahnya telah
meninggal (mungkin dari kita tidak tahu informasi ini). Namun saat pembayaran
SPP, seperti anggota bidik misi yang lain, gradenya naik menjadi Rp 1.750.000,00.
Dan apa jadinya jika kita sudah berharap mendapatkan bantuan tapi sampai akhir
pembayaran SPP bantuan itu tidak kunjung datang? Sama seperti keluarga kita
yang satu ini. Ketika ia sadar bahwa ia tidak bisa masuk kuliah di semester
dua, pasti kita tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ia sangat membutuhkan semangat
untuk saat ini.
Di
sini, kita tidak perlu memperdebatkan siapa yang salah. Apakah itu pemerintah,
universitas, atau pribadinya. Yang perlu kita lakukan, mengunjunginnya, memberi
ia semangat, dan terus mendukungnya. Ia menutup nomor teleponnya, bukan berarti
ia tidak mau diberikan semangat. Di dalam hati kecilnya pasti mengingat kita
(keluarganya), dimanakah mereka?
Sewaktu sebelum mengajar bilangan kompleks, Ibu Ala' berkata, "ketika rasa persaudaraan tumbuh, maka hati nurani akan terketuk untuk membantu saudara kita yang kesulitan". Dari sini kita bisa menyimpulkan, jika kita tidak bertindak berarti tidak ada sama sekali rasa persaudaraan yang terbesit dari diri kita. Jika rasa persaudaraan itu ada, maka buktikan itu dengan bantuan berupa kepedulian emosional apalagi peduli pula terhadap finansialnya. Dalam serial Malam Minggu Miko, Raditya Dika menyebutkan, "Tidak peduli apakah orang lain membutuhkan kita atau tidak, yang penting kita ada untuk mereka". Jadi dalam hati kita, jangan ada kata, "Ah, mungkin dia sudah move on. Ah mungkin dia gak membutuhkan bantuan, dia kan sudah besar. Ah, masa bodoh, saya aja sedang kesulitan". Dan jangan pernah diberikan imbalan ketika menolong, Tuhan kita pasti mencatat semua perbuatan kita.
Ada
banyak hal yang dapat kita sarankan kepada saudara kita. Pertama, mendaftar
SBMPTN. Dari hasil penelusuran Alium Cepa, saudara kita sebenarnya lebih memilih
informatika. Terbukti pada tahun kemarin ia lolos masuk STMIK Bumi Gora dan di kartu
SBMPTN-nya, pilihan pertamanya adalah informatika. Mungkin dengan kejadian ini,
ia akan mendapatkan cita-cita awalya. Kedua, jika ia telah jatuh cinta dengan
fisika, ia lebih baik tetap bersama dengan kita sambil menunggu satu semester
lagi. Karena jika ia masuk saat kita di semester tiga, tidak ada kelas untuk
dia. Ketiga, jika ia punya pilihan jurusan yang baru maka kita sama-sama
mendoakan agar saudara kita lolos dan sukses pada pilihannya, walau pilihannya
itu bukan di Unram lagi. Jika teman-teman ada usul lain, silahkan diberikan kepada saudara kita. Jangan ada rasa malu untuk berbuat baik.
Dan ketika kita ditakdirkan berpisah, tidak ada yang
namanya putus silaturahmi. Kita pernah menjadi keluarga, bukan sekedar pernah,
tapi kita telah menjadi keluarga. Dan tidak ada yang namanya, bekas keluarga.
Buktikan bahwa warga Gammafis adalah orang-orang yang paripurna.

0 komentar:
Posting Komentar